Senin, 19 Agustus 2013

Kapan kau datang Lagi (gerimis)




Saban hari kau bilang akan datang setelah senja menyapamu. Lantas, sembari menyeruput kopi sampai setengah cangkir, kau belum datang juga. Kapan kau datang lagi (gerimis)?

Lagi, ingatan ini masih belum terlalu rapuh mendengar celotehmu yang merayuku. Menikmati hari bersama secangkir kopi  hangat selama pagi, tapi sudah berapa hari ada yang janggal, kau (gerimis) belum juga datang.  Semacam sindrom rindu yang dibuat sendiri dan dikendalikan hati untuk menunggumu (gerimis).  Kapan kau datang lagi (gerimis)? Haruskah menunggu selama ini. Lantas harus digantikan sebagai apa selama menunggumu (gerimis). Sedang aku membenci hujan lebat, aku hanya ingin denganmu saja, ya denganmu saja itu sudah cukup.

Lalu, kapan kau datang lagi (gerimis)? Menemuiku bersama cerita lama kita yang selalu kita bicarakan. Aku rindu datangmu yang bisu, suara gemericikmu yang mendayu lalu harumu yang membuat candu. Kalo kau tidak akan datang lagi (gerimis) kisah ini akan tetap tanggal,  karena hanya padamu dan padamu (gerimis) aku mampu berkisah. Ah, ayolah temuilah aku sebentar saja, meski Semesta melarangmu, buatlah perjanjian denganNya, rayulah Ia dengan suaramu yang teduh itu, Semesta akan memaklumi.

Lalu, kapan kau datang lagi (gerimis)? berhentilah membuatku menunggu.



Jumat, 16 Agustus 2013

Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak


Saya rasa, kopi dan saya memang berjodoh. Cerita singkat saya berawal dari kebiasaan mengopi saya semenjak duduk di sekolah menengah atas. Saya selalu mengingat momen yang tidak pernah saya lupakan bersama Good Day saat itu. Ketika itu, ibu kantin yang biasanya menjual minuman instan dengan rasa buah-buahan, tiba-tiba berjualan kopi Good Day yang diseduh dengan air panas . Lantas, saya memberi saran “ Mengapa tidak mencoba memblend kopi Good Day yang memiliki banyak varian dengan es batu saja, seperti yang biasa saya lakukan di rumah” Ibu kantin menyetujui saran saya dan mulailah menjual kopi Good Day yang di blend bersama es batu.

Kopi instan &cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak. Ketika saat itu, kebiasaan saya mengopi mulai menjadi, saya selalu melibatkan Good Day bersama hari-hari saya, bukan hanya sekadar di rumah ketika setiap malam saya meminum kopi Good Day ini sebagai teman mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan, saya dan kopi Good Day sudah seperti sahabat dekat. Bagaimana tidak?  berbagai varian rasanya selalu menemani saya setiap hari. Mungkin senin adalah hari yang paling membosankan bagi semua orang termasuk saya, tapi juga seketika bisa  menjadi sahabat dekat ketika Good Day rasa Capuccino yang di blend dengan es batu saya pesan di kantin sekolah, rasa gurihnya mampu memberikan saya semangat baru saat itu. Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak.

Hari berikutnya ketika selasa adalah hari yang paling menegangkan, pelajaran matematika adalah hal yang paling saya benci saat itu, saya biasa memesan Good Day Coolin Coffee yang juga di blend dengan es batu, alih-alih mampu mendinginkan otak ketika hampir dua jam lebih saya menelan pahitnya pelajaran berhitung, dan sungguh ajaib bukan hanya otak yang bisa mendingin tapi pikiran saya pun ikut dingin. Lantas saya berbagi kepada teman-teman  tentang cara saya dan mereka pun bisa ikut merasakan hal yang sama seperti saya. Rabu ketika pelajaran olahraga yang lumayan menyerap enargi, dengan Freeze Mocafrio mampu mengembalikan energi saya yang terkuras selama jam pelajaran olahraga.



Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak. Ketika kamis tiba adalah hari ketika pelajaran agama berlangsung,  yang kebanyakan membuat para siswa mengantuk bisa saya taklukan seketika saya meyeruput  Carrebian Nut yang memiliki wangi yang khas dari aroma kacangnya yang gurih. Dan Jumat-sabtu adalah hari  paling membuat saya bahagia, betapa tidak? memory masa itu masih amat tersimpan apik sampai saat ini, karena pada hari itu saya selalu berkumpul bersama teman-teman sepulang sekolah sekadar berkumpul menikmati berbagai varian rasa yang berbeda dari kopi Good Day, seperti mocaccino, chococinno, vanilla late, coffemix, freeze choco orange dan original. lebih tepatnya di hari itu saya selalu memiliki waktu untuk  bisa berbagi keceriaan masa muda bersama teman-teman saya saat itu. 

“Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak” begitulah momen-momen yang saya miliki bersama Good Day yang hingga saat ini tidak akan pernah saya lupakan. Bahkan, kebiasaan mengopi saya hingga detik ini masih terus berlangsung bersama Good Day. Saya dan Good Day memang sahabat dekat bahkan kesetiaan nya menemani saya melebihi seorang kekasih, rasanya seperti ada yang hilang ketika satu hari tanpa menyeruput kopi Good Day baik ketika pagi datang dan memberi saya semangat baru setiap harinya, atau bahkan setiap malam yang selalu setia menemani dan memberikan inspirasi menulis saya.  I Love you more and more my  Good Day :)










Senin, 12 Agustus 2013

RANDOM


Dalam isi tulisan ini, saya tidak bermaksud sedikitpun menyinggung hati atau sifat manusia sedikitpun yah. Jadi, kalo yang merasa tersinggung itu masalah hatimu sendiri :p hehe

Saya mulai mengerti sekarang mengapa Tuhan memberi banyak kesempurnaan untuk manusia. Ya, bukan hanya sekadar untuk bisa memanfaatkan kesempurnaan yang ada, melainkan untuk bisa mencari tahu fungsi atau tujuan masing-masing manusia hidup di Dunia ini.

Saya atau mungkin mereka, mungkin masih belum tahu ataupun memahami tujuan manusia sebenarnya. Menurut saya jangan pernah mau tahu, karena itu semua urusan Tuhan. Manusia hanya bisa berbuat, lantas tetap Tuhan yang berkehendak. Perlu dipahami sekali lagi untuk Saya, kalian  atau mereka bahwa kehidupan masing-manusia manusia itu berbeda, sekalipun mereka terlahir kembar. Begitulah maha besar Tuhan bukan.
Saya bukan bermaksud menggurui, tapi berdasarkan pengalaman yang ada di sekitar Saya sendiri, bahwa pemikiran ataupun sifat manusia nyatanya bisa dibentuk berdasarkan pengalaman yang ada pada diri mereka masing-masing. Karena nyatanya Kehidupan bukan sekadar bagaimana mencari cara untuk tetap bisa bertahan hidup, termasuk mencari sebuah cinta yang nyatanya bisa memberi motivasi pada manusia dimanapun untuk bisa bertahan.

 Akan tetapi, yang sangat disayangkan adalah ketika Manusia yang sudah diberi kemudahan oleh Tuhan, nyatanya hanya bisa mensyukuri tanpa berbuat apapun kepada sesama. Ingatlah, bahwa kehidupan yang sempurna adalah ketika kita bisa membahagiakan orang lain. Di sini saya tidak menyebut pengorbanan, karena nyatanya pengorbanan seringkali  berbuah ketidakadilan. Saya hanya menekankan kepada sisi pola pikir manusia yang menurut saya bisa amat sempit ketika hidupnya hanya berkiblat dengan apa yang dilihatnya setiap hari, pada tempat yang sama pula. seperti halnya ketika setiap pagi kau hanya bisa mendengar kicauan burung gereja  melalui atap rumahmu, lalu  melalui jendela  kau melihat taman yang setiap hari kau lihat dengan rerumputan dan beberapa pohonmu di dalamnya. Ya, hanya itulah yang akan kau dapati sampai kapanpun, seolah kau menutup matamu untuk bisa mengetahui lebih banyak tentang kehidupan ini. Padahal nyatanya kau amat paham, ada banyak jenis burung yang Tuhan ciptakan dan ada banyak pula rerumputan dan jenis-jenis pepohonan yang bisa tumbuh di dunia ini.  Semesta ini luas, bukan sebatas arah pandanganmu saja ketika  kau cukup melebarkan matamu

Bukalah mata beserta hatimu . Manusia hanya butuh keberanian untuk bisa bertolak belakang pada hatinya ataupun apa yang didengarnya. Tuhan menciptakan fungsi sebuah hati bukan sekadar untuk bisa merasakan kebahagian ataunpun kesedihan. Tapi juga untuk bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sesamamu.  Amat pedih rasanya ketika manusia hanya bisa memahami apa yang dilihatnya saja, tetapi lupa bahwa yang tidak terlihat dan ada di sekitarmu  adalah kehidupan yang sebenarnya :) 

Selasa, 02 Juli 2013

Cermin



Semestinya dia tidak sedang duduk disana bersama sisa kepulan asap rokoknya malam itu. Hatinya masih tetap padamu, setengah hancur. Meski lelaki yang sedang satu bangku bersamanya terus mengoceh tanpa ampun bicara teori-teori kehidupan yang katanya mesti sejalan dengan takdir dan hitungan usia. Sedang ia bersama hatinya yang tertinggal tetap diam.


Bandung tidak sedang berdamai kali ini, ia terus mempertanyakan Manusia mana yang tidak pernah membenci hidupnya sendiri? rasanya-rasanya membuat janji pada malam seperti ini di tengah kota tidak cukup membuat pikirannya lebih baik. Ia sekadar butuh diam meski keramaian jalanan pada malam itu mengingatnnya pada potongan-potongan memory bersamanya. Kepulan asap rokoknya terus terbang memenuhi cafe malam itu. Hingar bingar musik malah membuatnya semakin kacau. Tapi ia belum mau beranjak karena Lelaki yang ditunggunya belum datang, lelaki yang sebetulnya tidak terlibat sedikitpun dengan hatinya. 

Kini, lelaki yang sedang satu bangku bersamanya mulai mencuci otaknya. Katanya jangan pernah mempermainkan hidup orang lain meski hatimu tetap padanya atau hatinya tetap padamu. Sedang malam itu ia hanya butuh didengar bukan mendengar tentang hidup yang baginya sudah setengah khatam ia mengerti. Sebuah proses yang menyulitkan meski sampai pada akhirnya adalah tetap  pada  pilihan yang dipilih Tuhan. Ia cukup mengerti masalah moral dan tata krama. Tapi baginya, semuanya kedok yang menjadi syarat menjadi Manusia sempurna. Lagi-lagi meski puntung rokoknya sudah mulai habis, ia masih terus bertanya "Manusia mana yang tidak pernah membenci hidupnya? aku, kamu atau mereka. Siapa? Bukankha menjadi seorang manusia bukan sebuah pilihan? tapi, mengapa manusia harus tetap memilih? Siapa yang mampu menjawab sedang semesta tetap diam. 

Kini, ia mulai bicara meski kedua pasang mata mereka tidak begitu senang saling menatap." Manusia mana yang senang mempermainkan hati seseorang, sedang hatinya terbagi dua padanya. Kalau manusia bicara tentang kesetiaan, bagiku itu hanya omong kosong. Pikiran manusia selalu tak sejalan dengan logika, bahkan lebih kepada apa yang dilihatnya. Aku sedang tidak ingin mendengarkan teori kehidupan yang bisanya sekadar didengar tanpa ada visualisasi pembuktian. Bagiku, kehidupan semacam cermin. Ketika kau mampu melihat dirimu di dalam cermin lebih cantik ataupun tampan dari hari kemarin, itu sudah sebuah pembuktian bahwa hidupmu sudah lebih baik dari kemarin. Dan, meski hatiku masih tetap padanya, tapi saat aku bercermin, aku tidak melihat luka melainkan kebahagian yang tertunda. Lantas, sampai kapan aku harus bercermin, sedang aku tidak tahu cara menunggu kebahagian yang tertunda itu seperti apa? 

_Bandung 29 Juni 2013




Senin, 13 Mei 2013

Mencari senyuman dari Orang "Sederhana"



                  Sebut saja ini hal gila yang saya lakukan di Jogja selama empat hari kemarin.”Saya kembali ke Kota ini tanpa ada rencana sama sekali, semuanya mengalir saja seperti air, meskipun pada kenyataannya memang ada hal yang saya urus di Kota ini. lantas  Apa yang kau cari Karin?.. Apa Tujuanmu? Dan apa yang kau dapat?” saya akan menjawab “  Mencari senyuman ketulusan dari masyarakatnya”. Sedikit konyol untuk sebuah harga perjalanan. Bukan Tujuan yang saya cari melainkan Proses untuk menempuh Tujuan tersebut. Meski begitu,  ada kepuasan batin yang luar biasa yang saya dapat di sana. Mereka masih punya senyuman yang sama, senyuman yang tulus meski kami tak saling kenal. Hari pertama saya  bertemu dengan seorang wanita yang usianya kurang lebih seumuran saya. Wanita itu tinggal di daerah bernama “Wates” , ia tinggal bersama adik perempuannya, kegiatan sehari-harinya berjualan Gudeg di depan teras rumahnya yang kebetulan tepat di depan jalan utama dimana kendaraan-kendaraan luar kota melintas. Wanita itu sangat Ramah, bahkan selalu tersenyum ketika saya menanyakan jalan terdekat ke arah kota. Pagi itu, saya menemukan satu senyuman tulus dari masyarakat Jogja. 


           Kembali ke Wates yang saya tahu  adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sinilah ibukota Kabupaten Kulon Progo. Katanya arti dari wates sendiri  adalah  "batas". Seperti halnya daerah perkotaan di sisi pantai selatan perkembangan kota ini relatif  kurang, karena hampir tidak ada penggerak aktivitas ekonomi yang muncul. Sehingga hanya berperan sebagai pusat administrasi dari kabupaten Kulon Progosebut saja. Kalo saya lihat, memang di sepanjang Desa ini hanya terhampar Lahan persawahan yang amat luas. Sedang, bangunan rumahnya sangat minim Saya jumpai di sana, Saya sedikit beragumen mungkin saja pemukiman penduduknya memang jauh dari lahan, entahlah.  Bersama cuaca pagi yang masih sejuk ketika matahari mulai terbit di Jogja, Saya menikmati pemandangan yang benar-benar jarang saya temui. Mata saya melek bahkan hampir melotot dan rasa kantukpun hilang ketika Saya melihat kebut-kabut yang menutupi ujung lahan persawahan, sedang matahari berada di belakangnya seolah ada garis lurus yang menuntun dua ciptaanNya itu. Maha besar Tuhan dan  Semesta. 


        Saya  mencoba berfikir kembali, untuk apa saya datang kembali ke kota ini, apa benar hanya sebatas mencari senyuman ketulusan dari mereka atau ada maksud tertentu .lagi-lagi  Entahlah, Yang perlu saya, kamu dan mereka sadari adalah memahami bahwa kita berada disini ataupun di suatu tempat  karena satu alasan. Karena sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan. Dan senyatanya saya percaya akan hal itu. Saya amat gemar meminum kopi, apalagi duduk sendirian di sebuah kedai kopi. Awalnya saya berharap menemukan banyak kedai kopi di kota ini. Tapi, nyatanya tidak,  saya tidak punya cukup waktu untuk bisa bersantai duduk di kedai kopi jogja. Meski begitu kekecewaan saya sudah bisa terbayar ketika seorang teman  saya menawarkan suatu tempat milik relasinya saat bekerja menjadi Humas, tepatnya di  Daerah Bantul dekat dengan Parangtritis. Di sini ada sebuah tempat yang menyewakan penginapan bernuansa alam. Saya pergi ke tempat ini awalnya sekedar menikmati malam di pinggiran jogja sambil minum kopi,  tapi ternyata tempat ini  merupakan tempat bersejarah untuk orang jogja.



       Awalnya bahkan  Saya pikir ada banyak tempat semacam ini yang bisa saya temui di Bogor atau Bandung misalnya. Ternyata saya salah besar. Bangunan khas jawanya masih amat kental, setiap kamar punya nama masing-masing. saya sempat menanyakan apa maksud dari nama-nama jawa tadi. Dan ternyata, nama-mana tersebut di dapat dari nama keluarga si empunya. Pemiliknya entah siapa, dan Saya memang tidak terlalu banyak bertanya, tapi saya betul-betul menikmati kedamaian di tempat ini. Konon tempat ini juga menyimpan banyak dokumentasi sekaligus memberikan informasi tentang sejarah dan budaya, serta menjadi tempat lahirnya karya kreatif yang berbasis masyarakat lokal. Rumah budaya ini sering menyelenggarakan berbagai kegiatan seni budaya seperti pameran seni rupa dan residensi perupa, pertunjukan seni tradisional maupun kontemporer, pentas tari dan teater, hingga malam pembacaan puisi. Untuk menunjang keberadaanya sebagai rumah budaya. Tpi, sayang ketika saya datang, ternyata lima belas menit yang lalu tengah ada pertunjungan wayang. Saya sedikit kecewa tapi cukup meyakini saja bahwa saya akan datang lagi ke tempat itu .



          Di sana saya bertemu dengan kakek tua yang bekerja sebagai tukang parkir, beliau kalo Saya bilang amat sangat ramah, sesaat saya dan bersama beberapa teman saya datang, senyumnya sudah sumringah, Saya melihat ketulusan dalam matanya, kebahagian yang sederhana ketika melihat tamu-tamu dari luar kota yang datang. Kalo saja saya fasih berbahasa jawa, sejujurnya saya ingin tahu lebih banyak tentang beliau, bagaimana cara tersenyum sumringah setiap harinya, keramahan yang tidak dibuat-dibuat, serta ketulusannya ketika seorang teman saya yang memang fasih berbahasa jawa tengah memakirkan mobilnya, Beliau bilang parkirnya “gratis” untuk kami, karena katanya beliau ingin melihat kami lagi datang ke tempat itu. Saya pikir itu yang disebut ketulusan yang sederhana. Mengapa kebanyakan manusia selalu rumit mencari kebahagiannya sendiri, sedang, saya fikir hanya dengan tersenyum sudah ada satu kebahagian kecil yang Tuhan berikan. Lalu, apa yang perlu di cemaskan. Meski selalu ada waktu yang membuat kita mentertawakan semuanya, itu hanya sebuah penderitaan kecil. Senyatanya,  Saya sendiri menyadari setiap langkah sudah pasti memiliki arti dan maksud. Hanya memahami, Semua tujuan manusia pada dasarnya sama. yakni membuat kesalahan lalu memperbaikinya. Bahkan saat mereka mengetahui sisi gelap pada dirinya sendiri. Sebetulnya mereka sendiri tahu bahwa mereka sedang melakukan kesalahan. Saya selalu menekankan pada diri saya sendiri Jadilah sesorang yang berbeda, sedang siapa yg ingin menjadi seperti orang lain. Dan menurut saya itu semacam penyakit yang serius. Karena Tuhan memilihmu untuk menjadi yang berbeda. Lantas mengapa kau mengecewakanNya.. 



         Hari berikutnya, ketika saya sedang duduk di tengah keramaian Malioboro. Ada dua orang pengamen yang menurut saya  kurang memiliki Atittude yang kurang baik, saya sedikit kecewa saat mereka memaksa untuk meminta uang. Tapi, saya tidak peduli justru dengan tindakan mereka malah membuat saya semakin ingin menjauh apalagi memberi mereka uang, meski uang yang saya keluarkan tidak seberapa. Saya mencoba berfikiran positif, saya fikir disinilah pentingnya pendidikan yang harus setiap manusia miliki. Bukan sekedar pendidikan formal melainkan non formal. Malam itu, memang mood saya agag terganggu. Tapi, lagi-lagi Tuhan memang  Maha baik. Ada seorang nenek tua yang datang mendekat, beliau tersenyum melihat saya lalu memegang lutut saya sembari mendoakan. Hati  saya benar-benar tersentuh, saya Aminkan semua doa-doanya yang baik, Semoga Tuhan Mengabulkan dan memberikan Saya, Kamu dan Mereka rasa Syukur yang Luar biasa dalam segala hal. Baik itu hal kecil ataupun hal besar. Yang terpenting adalah bagaimana Hati kita akan selalu menjadi Besar untuk menerima sebuah perubahan atau proses dalam Hidup.
JOGJA, Kotamu membuat saya jatuh cinta, bahkan saya ingin selalu kembali dan kembali ke Kota ini. kota dimana kau bisa menemukan senyuman ketulusan dari orang-orang yang sederhana :) 

Selasa, 02 April 2013

cerita tentang sebuah pesan yang ingin kukirim...


Mungkin terlalu klasik bagimu ketika aku mengirimu sebuah pesan ini. Namun, kukira seorang yang melankolis sepertimu adalah wajar ketika seorang kekasih atau teman mengirimu sebuh pesan. Akan kucoba mengingatkanmu sedikit tentang aku yang selalu menatapmu seperti awan yang basah karena gerimis..lalu seketika kau mengering oleh tiupan angin yang menawarkannya... aku tahu saat itu kau tersenyum bahkan tertawa lepas mencoba membisikan satu demi satu kisahmu yang memilu... Aku hanya perlu menjadi angin lalu sesaat dunia menjadi tak ada.  Sehingga, aku tak perlu memikirkan bagaimana cara untuk bertahan hidup atau juga menghindar dari kematian. Yang kujalani adalah bagaimana aku terus bisa bersamamu melihat dunia... lalu  berubah menjadi tinta yang bisa  melukismu menjadi pelangi atau bahkan senja yang kulukis menjadi jingga. Tapi... di luar kuasaku kau malah berubah menjadi sebuah jiwa  yang ingin bebas dan menari-menari tanpa mau mengikuti arah angin yang biasa membawamu pergi  atau bahkan  kau malah menhindar saat  gerimis mencarimu.  Dan kau dengan sisa tenagamu mencari tahu sendiri bagaimana cela senja merubah warnanya menjadi jingga...

Aku hanya perlu tahu atau kalo perlu memohon tataplah aku dengan cara yang berbeda, bukan tatapan ketika kau menatap orang pada umumnya. Meski aku mengerti cinta sejati bisa menunggu.. tapi cinta itu bisa memudar  tanpa pengecualian dan tanpa harus ada alasan. Bagaimana aku bisa segila ini. padamu, pada waktu yang selalu mempermainkan kita. Mungkin ini sedikit konyol. Tapi mungkin aku sudah gila sampai pada akhirnya... Apa perlu aku bahagia atau tak peduli ketika  melihatmu menghabiskan sisa setiap malam akhir pekan sendirian atau ketika kau ingin berbagi kegembiraan sedang di hadapanmu hanya sebuah meja kerja, laptop dan secangkir kopi.  Aku tahu kau akan baik-baik saja..sedang aku sebaliknya. 


Selasa, 26 Maret 2013

Kopi pagi yang disela sedikit kenangan....

Saya baru tiba di kota ini beberapa jam yang lalu.setelah hampir delapan jam lamanya di dalam kereta. Masih Pagi memang ,sekitar pukul enam. saya masih harus menunggu dua jam lamanya demi  seorang sahabat saya yang memang menetap di Bandung Berjanji menjemput kedatangan saya pagi ini. kedai kopi di seberang stasiun itu masih tutup. Lantas saya menanyakan kepada seorang pekerja di stasiun kedai kopi terdekat. Kekhuatiran saya muncul ketika seorang petugas menunjukan sebuah kopi shop 24 jam yang jaraknya sekitar 100 meter dari stasiun. saya mulai cemas, bila saja tak ada kenangan di tempat itu mungkin saya tak akan pernah bertanya letak kopi shop terdekat. sepertinya saya akan mencoba berspekulasi tapi entah dengan siapa? dengan keadaan atau cuaca pagi ini yang benar-benar seperti mesin pembunuh. baiklah, saya mengalah daripada tubuh saya jatuh sakit karena menggigil apalagi kalo sampai semua urusan saya berantakan hari ini.


Kopi shop itu masih sepi, Saya memesan Latte hangat  duduk di meja pertama meletakan semua barang beserta laptop yang saya bawa. semua barang-barang saya letakan di samping kursi. sedang saya tetap pada posisi duduk mengambil sebuah catatan yang pernah saya tulis, dalam sebuah buku yang masih saya baca ada sebuah kutipan “Bayangan adalah sisi gelap kita, yang mendikte bagaimana kita seharusnya berlaku dan bertindak. Ketika kita mencoba membebaskan diri, kita menyalakan sebuah lampu di dalam diri kita, dan kita melihat jejaring laba-laba, sifat pengecut, kekejaman., dan biasanya dia berhasil, dan kita berlari kembali pada siapa kita sebelum kita mulai merasa ragu. Namun demikian, beberapa orang berhasil bertahan menghadapi pertemuan dengan jaring laba-laba mereka sendiri, dan berkata, “Ya, aku punya beberapa kesalahan, tapi aku baik-baik saja, dan aku ingin melanjutkan. Pada tahap ini, bayangan menghilang dan kita bersentuhan dengan Soul-jiwa.

Kopi Latte pesanan saya tiba lima menit kemudian. Saya membunuh waktu dengan sedikit beragumen, pengunjung kopi shop ini  para pekerja kantoran yang entah mungkin  terlalu pagi tiba di kantor dan sebagian lagi sepertinya para mahasiswa yang mencari tongkrongan sebelum jam kuliah.  

Kenangan itu tidak juga singkat,sedang saya hanya perlu duduk dan menikmati kopi Latte atau mungkin sesekali membuka email yang masuk sambil memakan beberapa biskuit. Tapi ingatan itu selalu datang setelahnya. Lelaki itu duduk di bangku nomer dua masih  menunggu dan  membunuh waktu bersama koran dan berita lokal pagi itu. Sebab bagaimana tidak ,ketika garis wajahnya masih sangat tersimpan rapi dalam memori. Menurutmu saya harus bagaimana?

satu jam berlalu. Lili menelpon saya menanyakan dimana ia harus menjemput saya, sementara saya masih merapikan barang-barang, saya berkata “jemputlah saya di depan stasiun sekitar satu jam lagi” dan seorang pria masuk stelahnya duduk di bangku nomer dua..  

Bandung 2013.....