Selasa, 02 Juli 2013

Cermin



Semestinya dia tidak sedang duduk disana bersama sisa kepulan asap rokoknya malam itu. Hatinya masih tetap padamu, setengah hancur. Meski lelaki yang sedang satu bangku bersamanya terus mengoceh tanpa ampun bicara teori-teori kehidupan yang katanya mesti sejalan dengan takdir dan hitungan usia. Sedang ia bersama hatinya yang tertinggal tetap diam.


Bandung tidak sedang berdamai kali ini, ia terus mempertanyakan Manusia mana yang tidak pernah membenci hidupnya sendiri? rasanya-rasanya membuat janji pada malam seperti ini di tengah kota tidak cukup membuat pikirannya lebih baik. Ia sekadar butuh diam meski keramaian jalanan pada malam itu mengingatnnya pada potongan-potongan memory bersamanya. Kepulan asap rokoknya terus terbang memenuhi cafe malam itu. Hingar bingar musik malah membuatnya semakin kacau. Tapi ia belum mau beranjak karena Lelaki yang ditunggunya belum datang, lelaki yang sebetulnya tidak terlibat sedikitpun dengan hatinya. 

Kini, lelaki yang sedang satu bangku bersamanya mulai mencuci otaknya. Katanya jangan pernah mempermainkan hidup orang lain meski hatimu tetap padanya atau hatinya tetap padamu. Sedang malam itu ia hanya butuh didengar bukan mendengar tentang hidup yang baginya sudah setengah khatam ia mengerti. Sebuah proses yang menyulitkan meski sampai pada akhirnya adalah tetap  pada  pilihan yang dipilih Tuhan. Ia cukup mengerti masalah moral dan tata krama. Tapi baginya, semuanya kedok yang menjadi syarat menjadi Manusia sempurna. Lagi-lagi meski puntung rokoknya sudah mulai habis, ia masih terus bertanya "Manusia mana yang tidak pernah membenci hidupnya? aku, kamu atau mereka. Siapa? Bukankha menjadi seorang manusia bukan sebuah pilihan? tapi, mengapa manusia harus tetap memilih? Siapa yang mampu menjawab sedang semesta tetap diam. 

Kini, ia mulai bicara meski kedua pasang mata mereka tidak begitu senang saling menatap." Manusia mana yang senang mempermainkan hati seseorang, sedang hatinya terbagi dua padanya. Kalau manusia bicara tentang kesetiaan, bagiku itu hanya omong kosong. Pikiran manusia selalu tak sejalan dengan logika, bahkan lebih kepada apa yang dilihatnya. Aku sedang tidak ingin mendengarkan teori kehidupan yang bisanya sekadar didengar tanpa ada visualisasi pembuktian. Bagiku, kehidupan semacam cermin. Ketika kau mampu melihat dirimu di dalam cermin lebih cantik ataupun tampan dari hari kemarin, itu sudah sebuah pembuktian bahwa hidupmu sudah lebih baik dari kemarin. Dan, meski hatiku masih tetap padanya, tapi saat aku bercermin, aku tidak melihat luka melainkan kebahagian yang tertunda. Lantas, sampai kapan aku harus bercermin, sedang aku tidak tahu cara menunggu kebahagian yang tertunda itu seperti apa? 

_Bandung 29 Juni 2013




Senin, 13 Mei 2013

Mencari senyuman dari Orang "Sederhana"



                  Sebut saja ini hal gila yang saya lakukan di Jogja selama empat hari kemarin.”Saya kembali ke Kota ini tanpa ada rencana sama sekali, semuanya mengalir saja seperti air, meskipun pada kenyataannya memang ada hal yang saya urus di Kota ini. lantas  Apa yang kau cari Karin?.. Apa Tujuanmu? Dan apa yang kau dapat?” saya akan menjawab “  Mencari senyuman ketulusan dari masyarakatnya”. Sedikit konyol untuk sebuah harga perjalanan. Bukan Tujuan yang saya cari melainkan Proses untuk menempuh Tujuan tersebut. Meski begitu,  ada kepuasan batin yang luar biasa yang saya dapat di sana. Mereka masih punya senyuman yang sama, senyuman yang tulus meski kami tak saling kenal. Hari pertama saya  bertemu dengan seorang wanita yang usianya kurang lebih seumuran saya. Wanita itu tinggal di daerah bernama “Wates” , ia tinggal bersama adik perempuannya, kegiatan sehari-harinya berjualan Gudeg di depan teras rumahnya yang kebetulan tepat di depan jalan utama dimana kendaraan-kendaraan luar kota melintas. Wanita itu sangat Ramah, bahkan selalu tersenyum ketika saya menanyakan jalan terdekat ke arah kota. Pagi itu, saya menemukan satu senyuman tulus dari masyarakat Jogja. 


           Kembali ke Wates yang saya tahu  adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sinilah ibukota Kabupaten Kulon Progo. Katanya arti dari wates sendiri  adalah  "batas". Seperti halnya daerah perkotaan di sisi pantai selatan perkembangan kota ini relatif  kurang, karena hampir tidak ada penggerak aktivitas ekonomi yang muncul. Sehingga hanya berperan sebagai pusat administrasi dari kabupaten Kulon Progosebut saja. Kalo saya lihat, memang di sepanjang Desa ini hanya terhampar Lahan persawahan yang amat luas. Sedang, bangunan rumahnya sangat minim Saya jumpai di sana, Saya sedikit beragumen mungkin saja pemukiman penduduknya memang jauh dari lahan, entahlah.  Bersama cuaca pagi yang masih sejuk ketika matahari mulai terbit di Jogja, Saya menikmati pemandangan yang benar-benar jarang saya temui. Mata saya melek bahkan hampir melotot dan rasa kantukpun hilang ketika Saya melihat kebut-kabut yang menutupi ujung lahan persawahan, sedang matahari berada di belakangnya seolah ada garis lurus yang menuntun dua ciptaanNya itu. Maha besar Tuhan dan  Semesta. 


        Saya  mencoba berfikir kembali, untuk apa saya datang kembali ke kota ini, apa benar hanya sebatas mencari senyuman ketulusan dari mereka atau ada maksud tertentu .lagi-lagi  Entahlah, Yang perlu saya, kamu dan mereka sadari adalah memahami bahwa kita berada disini ataupun di suatu tempat  karena satu alasan. Karena sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan. Dan senyatanya saya percaya akan hal itu. Saya amat gemar meminum kopi, apalagi duduk sendirian di sebuah kedai kopi. Awalnya saya berharap menemukan banyak kedai kopi di kota ini. Tapi, nyatanya tidak,  saya tidak punya cukup waktu untuk bisa bersantai duduk di kedai kopi jogja. Meski begitu kekecewaan saya sudah bisa terbayar ketika seorang teman  saya menawarkan suatu tempat milik relasinya saat bekerja menjadi Humas, tepatnya di  Daerah Bantul dekat dengan Parangtritis. Di sini ada sebuah tempat yang menyewakan penginapan bernuansa alam. Saya pergi ke tempat ini awalnya sekedar menikmati malam di pinggiran jogja sambil minum kopi,  tapi ternyata tempat ini  merupakan tempat bersejarah untuk orang jogja.



       Awalnya bahkan  Saya pikir ada banyak tempat semacam ini yang bisa saya temui di Bogor atau Bandung misalnya. Ternyata saya salah besar. Bangunan khas jawanya masih amat kental, setiap kamar punya nama masing-masing. saya sempat menanyakan apa maksud dari nama-nama jawa tadi. Dan ternyata, nama-mana tersebut di dapat dari nama keluarga si empunya. Pemiliknya entah siapa, dan Saya memang tidak terlalu banyak bertanya, tapi saya betul-betul menikmati kedamaian di tempat ini. Konon tempat ini juga menyimpan banyak dokumentasi sekaligus memberikan informasi tentang sejarah dan budaya, serta menjadi tempat lahirnya karya kreatif yang berbasis masyarakat lokal. Rumah budaya ini sering menyelenggarakan berbagai kegiatan seni budaya seperti pameran seni rupa dan residensi perupa, pertunjukan seni tradisional maupun kontemporer, pentas tari dan teater, hingga malam pembacaan puisi. Untuk menunjang keberadaanya sebagai rumah budaya. Tpi, sayang ketika saya datang, ternyata lima belas menit yang lalu tengah ada pertunjungan wayang. Saya sedikit kecewa tapi cukup meyakini saja bahwa saya akan datang lagi ke tempat itu .



          Di sana saya bertemu dengan kakek tua yang bekerja sebagai tukang parkir, beliau kalo Saya bilang amat sangat ramah, sesaat saya dan bersama beberapa teman saya datang, senyumnya sudah sumringah, Saya melihat ketulusan dalam matanya, kebahagian yang sederhana ketika melihat tamu-tamu dari luar kota yang datang. Kalo saja saya fasih berbahasa jawa, sejujurnya saya ingin tahu lebih banyak tentang beliau, bagaimana cara tersenyum sumringah setiap harinya, keramahan yang tidak dibuat-dibuat, serta ketulusannya ketika seorang teman saya yang memang fasih berbahasa jawa tengah memakirkan mobilnya, Beliau bilang parkirnya “gratis” untuk kami, karena katanya beliau ingin melihat kami lagi datang ke tempat itu. Saya pikir itu yang disebut ketulusan yang sederhana. Mengapa kebanyakan manusia selalu rumit mencari kebahagiannya sendiri, sedang, saya fikir hanya dengan tersenyum sudah ada satu kebahagian kecil yang Tuhan berikan. Lalu, apa yang perlu di cemaskan. Meski selalu ada waktu yang membuat kita mentertawakan semuanya, itu hanya sebuah penderitaan kecil. Senyatanya,  Saya sendiri menyadari setiap langkah sudah pasti memiliki arti dan maksud. Hanya memahami, Semua tujuan manusia pada dasarnya sama. yakni membuat kesalahan lalu memperbaikinya. Bahkan saat mereka mengetahui sisi gelap pada dirinya sendiri. Sebetulnya mereka sendiri tahu bahwa mereka sedang melakukan kesalahan. Saya selalu menekankan pada diri saya sendiri Jadilah sesorang yang berbeda, sedang siapa yg ingin menjadi seperti orang lain. Dan menurut saya itu semacam penyakit yang serius. Karena Tuhan memilihmu untuk menjadi yang berbeda. Lantas mengapa kau mengecewakanNya.. 



         Hari berikutnya, ketika saya sedang duduk di tengah keramaian Malioboro. Ada dua orang pengamen yang menurut saya  kurang memiliki Atittude yang kurang baik, saya sedikit kecewa saat mereka memaksa untuk meminta uang. Tapi, saya tidak peduli justru dengan tindakan mereka malah membuat saya semakin ingin menjauh apalagi memberi mereka uang, meski uang yang saya keluarkan tidak seberapa. Saya mencoba berfikiran positif, saya fikir disinilah pentingnya pendidikan yang harus setiap manusia miliki. Bukan sekedar pendidikan formal melainkan non formal. Malam itu, memang mood saya agag terganggu. Tapi, lagi-lagi Tuhan memang  Maha baik. Ada seorang nenek tua yang datang mendekat, beliau tersenyum melihat saya lalu memegang lutut saya sembari mendoakan. Hati  saya benar-benar tersentuh, saya Aminkan semua doa-doanya yang baik, Semoga Tuhan Mengabulkan dan memberikan Saya, Kamu dan Mereka rasa Syukur yang Luar biasa dalam segala hal. Baik itu hal kecil ataupun hal besar. Yang terpenting adalah bagaimana Hati kita akan selalu menjadi Besar untuk menerima sebuah perubahan atau proses dalam Hidup.
JOGJA, Kotamu membuat saya jatuh cinta, bahkan saya ingin selalu kembali dan kembali ke Kota ini. kota dimana kau bisa menemukan senyuman ketulusan dari orang-orang yang sederhana :) 

Selasa, 02 April 2013

cerita tentang sebuah pesan yang ingin kukirim...


Mungkin terlalu klasik bagimu ketika aku mengirimu sebuah pesan ini. Namun, kukira seorang yang melankolis sepertimu adalah wajar ketika seorang kekasih atau teman mengirimu sebuh pesan. Akan kucoba mengingatkanmu sedikit tentang aku yang selalu menatapmu seperti awan yang basah karena gerimis..lalu seketika kau mengering oleh tiupan angin yang menawarkannya... aku tahu saat itu kau tersenyum bahkan tertawa lepas mencoba membisikan satu demi satu kisahmu yang memilu... Aku hanya perlu menjadi angin lalu sesaat dunia menjadi tak ada.  Sehingga, aku tak perlu memikirkan bagaimana cara untuk bertahan hidup atau juga menghindar dari kematian. Yang kujalani adalah bagaimana aku terus bisa bersamamu melihat dunia... lalu  berubah menjadi tinta yang bisa  melukismu menjadi pelangi atau bahkan senja yang kulukis menjadi jingga. Tapi... di luar kuasaku kau malah berubah menjadi sebuah jiwa  yang ingin bebas dan menari-menari tanpa mau mengikuti arah angin yang biasa membawamu pergi  atau bahkan  kau malah menhindar saat  gerimis mencarimu.  Dan kau dengan sisa tenagamu mencari tahu sendiri bagaimana cela senja merubah warnanya menjadi jingga...

Aku hanya perlu tahu atau kalo perlu memohon tataplah aku dengan cara yang berbeda, bukan tatapan ketika kau menatap orang pada umumnya. Meski aku mengerti cinta sejati bisa menunggu.. tapi cinta itu bisa memudar  tanpa pengecualian dan tanpa harus ada alasan. Bagaimana aku bisa segila ini. padamu, pada waktu yang selalu mempermainkan kita. Mungkin ini sedikit konyol. Tapi mungkin aku sudah gila sampai pada akhirnya... Apa perlu aku bahagia atau tak peduli ketika  melihatmu menghabiskan sisa setiap malam akhir pekan sendirian atau ketika kau ingin berbagi kegembiraan sedang di hadapanmu hanya sebuah meja kerja, laptop dan secangkir kopi.  Aku tahu kau akan baik-baik saja..sedang aku sebaliknya. 


Selasa, 26 Maret 2013

Kopi pagi yang disela sedikit kenangan....

Saya baru tiba di kota ini beberapa jam yang lalu.setelah hampir delapan jam lamanya di dalam kereta. Masih Pagi memang ,sekitar pukul enam. saya masih harus menunggu dua jam lamanya demi  seorang sahabat saya yang memang menetap di Bandung Berjanji menjemput kedatangan saya pagi ini. kedai kopi di seberang stasiun itu masih tutup. Lantas saya menanyakan kepada seorang pekerja di stasiun kedai kopi terdekat. Kekhuatiran saya muncul ketika seorang petugas menunjukan sebuah kopi shop 24 jam yang jaraknya sekitar 100 meter dari stasiun. saya mulai cemas, bila saja tak ada kenangan di tempat itu mungkin saya tak akan pernah bertanya letak kopi shop terdekat. sepertinya saya akan mencoba berspekulasi tapi entah dengan siapa? dengan keadaan atau cuaca pagi ini yang benar-benar seperti mesin pembunuh. baiklah, saya mengalah daripada tubuh saya jatuh sakit karena menggigil apalagi kalo sampai semua urusan saya berantakan hari ini.


Kopi shop itu masih sepi, Saya memesan Latte hangat  duduk di meja pertama meletakan semua barang beserta laptop yang saya bawa. semua barang-barang saya letakan di samping kursi. sedang saya tetap pada posisi duduk mengambil sebuah catatan yang pernah saya tulis, dalam sebuah buku yang masih saya baca ada sebuah kutipan “Bayangan adalah sisi gelap kita, yang mendikte bagaimana kita seharusnya berlaku dan bertindak. Ketika kita mencoba membebaskan diri, kita menyalakan sebuah lampu di dalam diri kita, dan kita melihat jejaring laba-laba, sifat pengecut, kekejaman., dan biasanya dia berhasil, dan kita berlari kembali pada siapa kita sebelum kita mulai merasa ragu. Namun demikian, beberapa orang berhasil bertahan menghadapi pertemuan dengan jaring laba-laba mereka sendiri, dan berkata, “Ya, aku punya beberapa kesalahan, tapi aku baik-baik saja, dan aku ingin melanjutkan. Pada tahap ini, bayangan menghilang dan kita bersentuhan dengan Soul-jiwa.

Kopi Latte pesanan saya tiba lima menit kemudian. Saya membunuh waktu dengan sedikit beragumen, pengunjung kopi shop ini  para pekerja kantoran yang entah mungkin  terlalu pagi tiba di kantor dan sebagian lagi sepertinya para mahasiswa yang mencari tongkrongan sebelum jam kuliah.  

Kenangan itu tidak juga singkat,sedang saya hanya perlu duduk dan menikmati kopi Latte atau mungkin sesekali membuka email yang masuk sambil memakan beberapa biskuit. Tapi ingatan itu selalu datang setelahnya. Lelaki itu duduk di bangku nomer dua masih  menunggu dan  membunuh waktu bersama koran dan berita lokal pagi itu. Sebab bagaimana tidak ,ketika garis wajahnya masih sangat tersimpan rapi dalam memori. Menurutmu saya harus bagaimana?

satu jam berlalu. Lili menelpon saya menanyakan dimana ia harus menjemput saya, sementara saya masih merapikan barang-barang, saya berkata “jemputlah saya di depan stasiun sekitar satu jam lagi” dan seorang pria masuk stelahnya duduk di bangku nomer dua..  

Bandung 2013.....

Senin, 12 November 2012

*Museum Benteng Vredeburg: Menjelajahi Yogyakarta Masa Lampau




NAMA Yogyakarta sudah begitu mendunia; sebagai kota wisata dan budaya. Banyak hal yang bisa dieksplorasi di salah satu daerah istimewa yang ada di Indonesia tersebut. Salah satunya adalah daya tarik sejarah, yang dikemas dan diceritakan lengkap oleh Museum Benteng Vrederburg.
Museum ini mengajak pengunjung bertamasya ke masa lalu, untuk menyaksikan sendiri bagaimana para pejuang kita mempertahankan kedaulatan negeri ini dari rongrongan Belanda. Museum Benteng Vredeburg dulunya adalah sebuah benteng yang didirikan pada masa kolonial Belanda atau VOC. Benteng ini didirikan untuk menahan serangan Kraton Yogyakarta pada Tahun 1765.
Begitu anda memasuki gerbang Museum ini, anda akan disambut tulisan “Vredeburg” yang tertempel di tembok. Di tempat itulah Anda bisa membeli tiket masuk yang murah meriah, hanya Rp 2.000 saja. Tapi, jangan salah. Kendati tiketnya murah, suguhan di dalam museum itu tidak murahan. Artefak-artefak sejarah di dalamnya masih terawat dengan baik.
Bangunan ini dipugar masih sesuai dengan bentuk aslinya. Mungkin hanya beberapa polesan cat yang disematkan di bangunan itu untuk mengusir kesan kusam. Ada beberapa gedung yang dipisah. Arsitekturnya begitu detail, kokoh, dan apik. Toiletnya pun didesain layaknya bangunan asli belanda.
Saat memasuki gedung pameran, anda akan disuguhkan lagu-lagu perjuangan yang seolah memancing memori kita tentang semangat juang pada masa itu. Di dalam ruang itu ada beberapa aquarium kaca, yang di dalamnya terdapat artefak-artefak dan miniatur pejuang yang tidak gentar membela bangsa ini.
Suasana di dalamnya begitu hening, meski banyak pengunjung yang datang. Para wisatawan seperti menikmati diorama ketegangan di masa itu. Di dalam aquarium kaca itu ada yang menampilkan miniatur para pahlawan yang gugur saat berjuang. Seolah pengunjung diajak untuk berbagi perasaan tentang apa yang terjadi di saat itu.
Selain benda-benda bersejarah, ada juga foto-foto serta lukisan yang menceritakan tentang perjuangan nasional sejak masa merintis, mencapai, dan mempertahankan kemerdekann Indonesia. Fasilitas di dalam museum benteng ini meliputi perpustakaan, ruang pertunjukan, ruang seminar, audio visual, hotspot gratis, musala, dan toilet yang bersih.
Museum buka pada hari Selasa-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB, dan Sabtu pukul 08.00-17.00 WIB. Hari senin dan hari libur Nasional tutup.
            Benteng Vredeburg berdiri di pusat kota Yogjakarta. Hanya berjarak beberapa puluh meter saja dari “titik 0 Yogyakarta, atau perempatan Kantor Pos Besar, tepatnya di Jl Ahmad Yani; jalan di utara perempatan Kantor Pos Besar atau dikenal dengan Jalan Malioboro yang sudah sangat kondang itu.
Untuk anda yang membawa kendaraan sendiri, baik roda dua maupun empat, tersedia lahan parkir luas, tidak jauh dari  depan Gerbang Vredeburg. So, bagi Anda penyuka sejarah, atau ingin merasakan sendiri bagaimana aura para pahlawan kita berjuang untuk membela negara ini, silahkan jelajahi museum ini. 

Minggu, 14 Oktober 2012

pinta pagiku

Pagi yang terlihat sama seperti sebelumnya. hanya saja ketika melihat "waktu" aku berusaha melupakan apa-apa. satu kata hanya "benang merah" ya, aku masih belum mencium jawaban Tuhan tentang benang merah dalam cerita ini. oh sungguh hukuman apa yang telah menantiku setelah ini, melihat alur cerita ini bagaikan tali yang tarik ulur ketika aku mengingatnya dan bagaimana sempurnanya dia hadir dalam permainan hati ini.

   Betapa tidak, melihat pagi adalah ketika aku mengingat matamu yang menghitam karena lelah. Sungguh aku mengerti itu karena pada pagi Sapaanku adalah hanya pada ubin yang ketika itu masih dingin. sesekali kutapaki cemas dengan kakiku yang tampak gemetar. Oh betapa aku masih ingin bercumbu pada malam karena pagi hanya selalu memaksaku untuk lirih.


  Beri aku waktu mungkin sekedar menunggu kabut hilang dari jendela kamar beserta bercak embun yang masih membeku. Sesekali kupejamkan mata ini seolah aku memiliki hatinya yang entak untuk siapa? Mungkin untuk masa yang enggan memeberinya kesempatan padaku untuk bisa memiliki sekali lagi. Atau pada abu yang tampak muram seperti enggan atau tak rela.


  Aku terpaksa menikmati kesakitanku pada pagi yang terus meminta tubuhku untuk direbahkan pada ubin yang kusebut persetan itu. sungguh aku hanya berkata mampu jika aku terus bermain dengan hati ini. tapi tak mampu ingin lupa, oh apa ini yang dinamakan penderitaan, terpaksa kukeluarkan serupa serapah tentang harapan hatiku yang hanya ingin membeku saja bersama ubin-ubin itu tanpa harus mencair lagi.seperti cahaya yang tak mau nampak dalam mendung atau bagai bisa dalam racun yang mematikan. lalu, bagaimana cerita pagi selanjutnya ketika harus kujalani separuh hidup ini dengan terus menginginkan hatinya.

Jumat, 05 Oktober 2012

JALAN DAGEN

Jogja merupakan kota yg menjadi tujuan utama setiap orang yg mungkin mempunyai budget rendah untuk berwisata. untuk saya yang masih mahasiswa mungkin kota kecil ini bisa dijadikan salah satu tempat melepaskan penat dari tugas-tugas kampus misalnya. Tapi entah kenapa selalu jogja yg terngiang dalam ingatan saya, atupun anda mungkin? Saya selalu merindukan kota ini. kota yg menurut saya penuh dengan kedamaian, penduduknya yg masih ramah2, dan tentunya tempat wisata kuliner yg menjadi tujuan saya apabila berkunjung.Hmmmm!!! Untuk anda yang baru pertama berkunjung ke jogja, saya sarankan untuk mencari "jalan Dagen" masih satu kawasan dengan malioboro. kebetulan jalan Dagen merupakan tempat favorit saya untuk mencari hotel-hotel ataupun penginapan murah. Informasi sedikit ya teman, jalan Dagen ini begitu strategis karena tepat berada di malioboro. saya biasanya mencari hotel yang range harganya dibawah 300 ribu/harinya, sebenarnya sii tidak begitu sulit mencari hotel murah di sekitar Jalan dagen ini, asalkan sabar saya jamin anda bisa menemukan hotel fasilitas bintang empat sekalipun. Karena jaraknya yang tidak begitu jauh dengan pasar bringharjo, mirota, sampai keraton sekalipun.Udara jogja yang dingin di pagi hari, selalu membuat perut saya keroncongan. Yup, tanpa berpikir panjang saya pergi keluar hotel untuk mencari seorang ibu penjual gudeg di pinggiran jalan Dagen. Beliau menjajakan dagangannya dengan gerobak tuanya yg masih terlihat kokoh. Gudeg yg dijual tidak begitu manis, dan agag pedas.yup, tentu saja ini gudeg yang saya suka. Karena meski saya penyuka makanan manis, tidak dipungkiri darah saya masih darah sunda, suka makanan manis kalo lagi kelaperan, selebihnya lidah saya lebih ke sambel dan lalapan hehehe!! saat itu Saya langsung memesan satu piring gudeg lengkap dengan opor telur, krecek dan kikil tumis pedas yang benar-benar membuat saya seperti orang kelaparan saat menyantapnya. Dan yang unik saat saya berjalan menyusuri jalan ini, banyak tukang becak yang sedang mangkal sambil menawarkan jasanya. Meski saya tidak mengerti bahasa jawa, saya cukup berkata "mboten pak" dan mereka pun langsung mengerti bahwa saya sedang ingin berjalan kaki
Di jalan ini ada banyak penjual oleh-oleh khas djogja, tepat di depan hotel tempat saya menginap ada toko yg menjual bakpia khas djogja lho, eitssss!! Ini bukan sembarang bakpia, rasanya ada banyak macam bukan hanya kacang hijau dan coklat..kalo kata mas-mas penjualnya sii, orang-orang biasa memesan "bakpia blesteran" sempat penasaran sii, lalu saya memesan beberapa bakpia blesteran dan ternyata benar, rasa bakpianya benar- benar berbeda dari bakpia lainnya, saya sulit menggabarkan. Silahkan coba sendiri kalo berkunjung nanti ;)